--> Skip to main content

Novel Romansa Dalam Sakumu: Dear Allah by Diana Febi

Sinopsis
Novel Romansa Dalam Sakumu: Dear Allah by Diana Febi

Cinta ibarat sebuah perahu besar yang berlayar di tengah lautan. Mata hati menjadi tolok ukur ke mana perahu akan berlabuh.
Lautan memberi cinta berbagai makna, ada ketenangan, ada yang terombang-ambing ombak, dan ada badai cinta. Perahu cintaku begitu tenang di tengah lautan, pencarianku mencari perlabuhan terakhir. Angin berembus dengan damai, ombak begitu tenang dan perahuku berlayar percaya diri di atas Ridho llahi. Hingga, mata hatiku melihat sebuah pelabuhan.

Pelabuhan itu tampak bersinar, memukau mata danhatiku. Coretan garis takdir llahi seketika tampak di
depan hupuk mataku. Perahuku harus berlabuh di sana. Aku berlayar dengan suka cita menuju pelabuhan itu. Seribu wirid menemani perahuku berlayar dengan kekuatan dari Allah Azza wa Jalla. Telah sampai ku di semenanjung pelabuhan, segera
kulepaskan jangkarku, dan aku siap berlabuh pada pelabuhan yang nampak indah tersebut.

Saat jangkarku sampai di dasar laut pelabuhan, aku terkejut saat ada perahu lain yang telah berlabu
sebelumku. Ingin kuberlayar lagi, namun jangkarku telah beku dan tersangkut di dasar lautan. Innalillahi, perahu cintaku telah berlabuh
pada pelabuhan hati yang salah..

Pernah mendengar cinta diam-diam? Banyak sekali kisah seperti itu. Di mana si wanita hanya memendam perasaan itu sendiri, hanya mampu berharap sendiri, hanya bisa menahan rasa sakit itu sendiri dan hanya bisa mengungkapkan perasaan cintanya melalui doa di
setiap sujud terakhirnya.

Aku tahu bagaimana ending dari cerita tersebut, yakni terkuaknya
cinta itu pada akhir cerita dan bersatunya mereka dalam ikatan suci
pernikahan dan berbahagia.

Jika Sang pemuda seperti Ali bin Abi Thalib yang juga mencintai diam-
diam Fatimah Az-Zahra. Ali dua kali tertohok karena Fatimah dilamar
oleh dua sahabat Nabi yang paling akrab dan dekat kedudukannya
dengan Nabi. Namun, Nabi menolak lamaran sahabatnya itu. Hingga
pada suatu ketika dengan niat yang terikat bulat, Ali memberanikan
diri melamar Fatimah meski hanya dengan baju besi. Ternyata, Nabi
menerimanya.

Jika Sang pemuda seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang
telah lama memendam perasaan terhadap Khadijah sebelum mereka
menikah. Ketika sahabat Khadijah, Nafisah binti Muniah menanyakan
kesediaan Nabi untuk menikahi Khadijah, maka Beliau menjawab,
"Bagaimana caranya?"
Cara Nabi menanyakan itu menggambarkan seolah-olah Beliau
telah menunggu lama untuk masa itu. Rumah tangga. mereka begitu
indah dan romantis meski saat itu usia Nabi jauh lebih muda darn
Khadijah, namun rasa cinta Nabi begitu besar terhadap Khadiyah.
Hingga masa di mana Rasulullah harus ikhlas merelakan Khadiah
dilamar malaikat maut dan dinikahkan dengan kematian. 

Setahun sepeninggal istrinya, Rasulullah masih dalam kedukaan yang mendalam karena begitu besar cintanya terhadap Khadijah, hingga suatu ketika seorang fulanah bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah. Mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki sembilan keluarga dan harus menjalankan seruan besar." Sambil menangis Rasulullah menjawab, "Masih adakah orang lain seperti Khadijah?"

Jika mungkin bukan karena perintah langsung dari Allah, Rasulullah tak akan menikah lagi untuk selamanya karena ketulusan mencintai Khadijah Ra.

Di zaman sekarang, adakah sosok seperti mereka? Cinta mereka
begitu tulus, indah, dan sangat romantis. Aku selalu berharap kepada Allah, jika suatu saat nanti dapat dipertemukan dengan pemuda yang tak jauh berbeda dengan dua nama besar tersebut.

Hingga akhirnya doa itu terwujud.
Pemuda itu adalah Wildan Khalif Firdausy. Satu-satunya kaum adam yang memberiku banyak arti mengenai segala hal tentang dirinya. Dia adalah teman, sahabat, guru, dan
seseorang yang diam-diam aku sukai. Bicaranya santun, parasnya
tampan, otaknya cerdas, senyumnya menawan, berwibawa, bijaksana,
baik kepada semua orang, lembut kepada wanita, dan agamanya luar
biasa.

Wajahnya nyaris sempurna dengan alis tebal, bulu mata lentik,
hidung mancung, bibir tipis kemerahan, kulit putih, mata bening, dan dua gigi gingsul menghiasi senyumnya. Meski aku hanya memandangnya sekali dengan durasi sepersekian detik, namun aku mampu menjabarkan bagaimana penampilannya karena dia begitu menonjol dari yang lain.

Agamanya masya Allah, lantunan Alqurannya membuat semua
orang berdecak kagum mendengarnya, suara azannya begitu merdu.Aku sering sekali tanpa sengaja melihat pemuda itu berjalan ke masjid di waktu pagi menjelang siang. Dia memiliki pemikiran yang cerdas, aku menyaksikan sendiri
ketika saat itu pesantren mengadakan lomba debat agama, mengangkat isu "Kedudukan Wanita di Mata Laki-laki Menurut Agama Islam".

Dengan jelas dan rapi dia menuturkan, "Sesungguhnya wanita
memiliki kedudukan tinggi dalam Islam dan membawa pengaruh besar
bagi kehidupan. Wanita sebagai seorang ibu, Al Ummu Madrasatun, ibu itu bagaikan sekolah. Seorang lakilaki hebat takkan menjadi apa-apa jika tak ada seorang ibu, seorang ibu adalah madrasah pertamanya
dalam menapaki jejak di bumi Allah ini.

"Wanita sebagai seorang istri, di mana istri adalah kunci dalam
kebahagiaan sang suami. Jika istri tersakiti hatinya, terseok-seoklah
suami menjalani kehidupannya. Namun, jika istri bahagia lahir batin,
layaknya jalan beraspal tanpa lubang kehidupan sang suami, rezeki
akan berlimpah dan kebahagiaan akan bertambah."
"Wanita sebagai seorang putri. Tanpa putri kesayangan seorang ayah takkan menjadi sosok ayah yang hebat, di mana seorang putri
dengan senyuman manjanya, semangat seorang ayah akan berkali-kali lipat hadir dalam dirinya. Bahkan, Rasululah mengatakan tiga kali
berturut-turut, siapa yang paling berhak untuk menerima bakti pertama kali, yakni ibu, seorang wanita. Jadi, begitu jelas bahwa kedudukan wanita sangat tinggi dalam agama Islam begitu juga di mata laki-laki, tanpa seorang wanita, laki-laki bukanlah apa-apa."
Dia sangat paham betul tentang kedudukan wanita dan dapat
kusimpulkan bahwa dia sangat menghormati wanita dan sangat
mencintai ibunya.

Namanya Wildan, dia kaum adam pertama yang kutulis dalam diary-ku, dia kaum adam pertama yang membuatku terkadang zina
pikiran dengan membayangkan wajahnya. Dia kaum adam pertama
yang kusebut dalam doa setelah nama Abah. Dia Wildan, cinta pertamaku. Aku bertemu dengannya di pesantren kilat beberapa tahun silam ketika aku masih duduk di kelas tiga SMA. Saat itu dia menjadi muazin dan imam perdana ketika pesantren kilat resmi dibuka.
Lantunan bacaan salatnya membuat hatiku tenang dan khusyuk,
aku sempat meneteskan air mata karena mendengar surah pendek yang dibacakan Wildan penuh dengan khidmat surah pendek itu adalah Al Humazah, surah yang menceritakan tentang manusia yang lalai karena harta. Sungguh, setiap ayatnya seakan menamparku, aku yang selama ini sering lalai, menunda salat hanya karena mementingkan urusan dunia, Astaghfirullahaladzim...

Wildan adalah sosok Muslim yang dikirimkan Allah untuk
menyampaikan hidayah-Nya kepadaku sekaligus menyampaikan suatu anugerah indah yang kusebut itu cinta. Satu hal yang kuingat dari
perkataannya yang membuatku merasa telah diberi hidayah oleh Allah adalah saat dia berkata, "Jangan pernah lupa untuk bersyukur kepada Allah. Kita hidup diberi oksigen gratis, kita hidup diberi akal yang cerdas, kita hidup diberi fisik yang sempurna, kita hidup dengan alam yang indah, dan ketika mati pun, Allah masih memberi suatu tempat yang indah di atas sana. Nikmat Allah mana yang kau dustakan?" ucapnya dengan sunggingan senyum memperlihatkan dua gigi gingsulnya.

Tak bohong bahwa saat itu aku merasa terbang saat melihat
senyuman itu. Jantungku tak hentinya berdetak kencang, begitu pula hatiku yang layaknya dipenuhi dengan kupu-kupu beterbangan yang
indah. Tetapi, detik selanjutnya aku diempaskan jatuh ke dasar kenyataan saat mengingat bahwa pria itu telah mengkhitbah gadis lain. Bahkan, pernikahannya sudah menghitung minggu.

Dear Allah, andai saja aku yang menjadi calon makmumnya dan
dia yang menjadi calon imamku.

Sumber: Wattpad
Penulis: Diana Febi
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar

Advertiser