--> Skip to main content

Romansa Dalam Sakumu: Sepenggal Kenang yang Dirindukan by Popy Novita

Sinopsis
Romansa Dalam Sakumu: Sepenggal Kenang yang Dirindukan by Popy Novita
“Luwih mulyo luwih mukti. Rasane wong neng suwargo. Pitung puluh widodari. Kasur babut den cawisi. Cawisane wongkang bekti. Dawuh pengeran kang moho suci. Mukmin lanang mukmin wadon. Mukmin iku sedherek kula.”


Satria membuka mata, tersenyum saat merasakan kedamaian mendengarkan nyanyian sholawat Jawa. Rambutnya terus dibelai dengan lembut. Membuatnya larut dalam rasa yang tak dapat diukir dengan kata-kata. Ada rindu yang melebur, menutupi luka hati yang menganga lebar.


“Le, sesungguhnya Allah adalah tempat kita semua kembali. Entah sekarang atau nanti. Jika Allah mengambil apa yang kita miliki, mungkin itu adalah tabungan untuk di akhirat kelak. Ikhlaskan hatimu agar ndak larut dalam kesedihan karena kehilangan. Mudeng, Le?”


Satria bangkit dari pangkuan, duduk menghadap wanita paruh baya yang begitu dicintainya. Tersenyum menatap wajah yang bercahaya. Anggun dengan tatapan menyejukkan. “Insya Allah, Mak,” jawabnya masih dengan mengukir senyum di bibir. 


“Sekarang atau nanti, sama saja, Le. Toh akhirnya kita akan berkumpul lagi. Itu pasti. Emak bahagia dan bangga melihatmu sukses seperti sekarang ini. Terus perbaiki akhlakmu ya, Le. Jangan turuti emosi atau ego yang tinggi. Selalu rendah hati, yang menjunjung tinggi kesopanan seperti yang Rasulullah contohkan.”


Emak membelai lembut wajah Satria. Wejangan yang beliau berikan begitu menenangkan. Hingga tak terasa, gumpalan di mata akhirnya menetes juga. Setetes lalu disusul tetesan lainnya saat emak menambahkan ucapannya.


“Allah itu ndak tidur kok, Le. Allah melihat semua yang kita perbuat. Kebaikan pasti akan menuai kebaikan pula. Jika ndak dibalas di dunia, mungkin di akhirat Allah telah menyiapkan surga-Nya yang begitu indah. Begitu pula yang berperilaku buruk pun nantinya akan menerima balasan. Jika hukuman di dunia dirasa ndak adil, Insya Allah di akhirat akan menerima keadilan yang sesungguhnya. Allah itu maha adil kok, Le. Percayalah.”


Luruh sudah air mata Satria. Berjatuhan dengan begitu derasnya. Merasa manusia paling berdosa, karena seakan tidak terima dengan takdir yang sudah Allah tentukan. Lupa, bahwa masih banyak kenikmatan yang lupa disyukuri. 


Tangan emak mengusap lembut wajah Satria yang telah basah. “Wes tho, jangan mewek.  Cah lanang kok nangisan. Wes gede sisan.”


Satria tertawa getir mendengar sindiran dari emaknya. Lalu dengan kasar mengusap wajah serta mata yang basah.


“Sini tiduran lagi. Kangen tho sama Emak?” Emak menepuk-nepuk pahanya yang dilapisi jarik warna cokelat tua. Jarik yang biasa ia kenakan, yang saat ini Satria bawa, kemanapun pergi.


Satria tersenyum lalu kembali meletakkan kepala di pangkuan emak. Mulai memejamkan mata saat emak mulai menyanyikan sholawat Jawa lagi. Damai yang dirasakan. Seakan tak ingin beranjak pergi. Biarlah seperti ini sampai nanti, luka di hati mengering hingga tak terasa lagi perihnya.


“Tidur ya, Le. Lupakan semua kesakitan. Masih ada hari esok juga masa depan. Bangkit dan jadilah Satria yang kuat seperti sebelumnya. Meski saat ini terpisah oleh jarak yang tak dapat ditempuh, jangan bersedih. Masih ada doa yang mampu mengobati rasa kangenmu. Doa yang kamu berikan, selalu sampai pada Emak kok, Le. Emak bisa melihat dan mendengarnya. Emak sangat bahagia.”

Sumber: Playstore 
Penulis: Popy Novita
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar

Advertiser