--> Skip to main content

Romansa Dalam Sakumu: Seperti Secangkir Kopi by Popy Novita

Sinopsis
Romansa Dalam Sakumu: Seperti Secangkir Kopi by Popy Novita
"Dari kopi kita belajar, bahwa pahit masih bisa dinikmati."

Agra menoleh pada Ekawira Roberto, menatap wajah yang serupa dirinya dalam bentuk yang lebih tua. 

Ekawira tersenyum lembut pada putra semata wayangnya, paham arti tatapan itu. Kemudian Ekawira pun menjelaskan, "Sama halnya dengan kehidupan ini. Meski pahit, tapi masih bisa dinikmati. Iya, toh?"

"Apanya yang dinikmati, Pa? Pahitnya bikin kita sesak napas. Kalau boleh milih, mending nggak ngopi aja sekalian. Masih banyak minuman lain yang manis, yang bisa dinikmati tanpa rasa pahit."

"Manis pun kalau terlalu sering, lama-lama bisa kena penyakit diabetes." Ekawira menyesap kopinya lagi sebelum kembali berujar, "Manis atau pahit, keduanya punya resiko masing-masing. Sama-sama memberikan dampak baik dan buruk. Ya tergantung dari sisi mana kita menikmatinya."

Agra tak menyahut, memilih meneguk kopinya yang tinggal setengah hingga tandas. Sedangkan Ekawira terkekeh pelan membuat Agra mengernyitkan dahi dan mengangkat satu alis tebalnya.

"Nah kan, meski pahit, masih bisa dinikmati. Kopi juga mengajarkan kita kesabaran. Pahit di pangkal, dan manis di penghujung. Baru nikmatnya bisa kita rasakan."

"Papa ini udah kayak pujangga aja ngomongnya."

"Lho jangan salah, dulu waktu Papa seumuran kamu, Papa ini pinter menggaet hati cewek cewek dari puisi puisi yang Papa buat lho. Mama kamu juga kepincut Papa dari puisi dan secangkir kopi."

Agra berdecak, memasang wajah tak suka. Dan seperti paham apa yang dirasakan oleh anaknya, Ekawira menepuk-nepuk pelan pungung Agra.

"Agra Roberto anak Papa dan Mama. Selamanya akan begitu. Kepahitan apa pun yang telah kamu telan, nggak akan mengubah takdir yang sudah Tuhan berikan. Nikmati saja sebagai mana mestinya. Seiring berjalannya waktu, dan bertambahnya usiamu, kamu akan menemukan jawaban. Pahit yang saat ini kamu rasakan itu ibarat baru menyesap kopi. Pahit. Tapi akan manis di penghujung nanti. Nikmatnya baru bisa kamu rasakan saat kamu sudah paham arti kehidupan ini."

Agra menatap lurus ke depan dengan tatapan kebencian. "Kenapa ... kenapa aku harus lahir dari rahim Mama?

Sumber: Playstore 
Penulis: Popy Novita
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar

Advertiser