--> Skip to main content

Alasan dan Cara Menghitung Standard Deviation







Standard Deviation merupakan indikator untuk menentukan tren dan volatilitas market. Indikator ini termasuk indikator teknikal yang juga bisa dikombinasikan dengan indikator lainnya. Indikator ini sering digunakan pihak investor karena berkaitan dengan volatilitas.

Sederhananya, indikator ini dapat dikatakan sebagai indikator volatilitas karena kesamaan cara penentuan indikatornya. Jika harga bergerak dalam ruang yang sempit, itu menandakan standar deviasi-nya rendah dan sebaliknya.

Bagi orang-orang yang berkaitan langsung dengan keuangan seperti manajer keuangan pasti memiliki ketertarikan tersendiri terhadap indikator ini. Karena, beda bidang keuangan maka beda pula penerapan indikator ini.

Indikator ini mampu menyediakan prediksi tentang harga, apakah melebihi batas yang ditentukan atau kembali ke harga rata-rata. Misalnya, jika standar deviasi suatu saham terlalu besar, nilai harga menjadi tidak teratur serta jarak harga melebar.

Seorang trader yang mengikuti tren akan memilih indikator yang menunjukkan volatilitas sehingga indikator ini sangat direkomendasikan untuk digunakan. Indikator yang melibatkan fluktuasi harga akan menyusahkan trader karena harga tergambar secara acak.

Ada beberapa langkah untuk menghitung indikator ini. 

Pertama, menggunakan rumus standar.

Rumus = 1N(X1 – X2)2
Keterangan:
X1 = Harga
X2 = Nilai harga mean

Rumus tersebut biasa digunakan dalam platform trading untuk menghitung harga untuk periode tertentu. Setelah itu, harga tersebut diletakkan di histogram untuk menghasilkan nilai standar deviasi. Nilai ini akan terlihat di jendela observasi dan memungkinkan untuk mengetahui tingkat volatilitas harga.

Dengan adanya indikator ini juga dapat menjelaskan perkiraan harga di waktu mendatang. Seperti, apakah akan naik turun tingkat volatilitas sebuah instrumen. Biasanya trader akan berasumsi jika pasar bergerak menyamping atau kurva saat terjadi fluktuasi harga menjadi acak.

Seorang trader yang mengacu dengan tren market pasti menggunakan indikator ini untuk melihat adanya tren baru. Akan tetapi, sebaiknya kombinasikan indikator ini dengan indikator teknikal lainnya agar fungsinya lebih optimal.

Misalnya, kombinasikan indikator ini indikator volatilitas Bollinger band yang cukup terkenal. Rerata pergerakan akan dijadikan sebagai garis tengah dan Bollinger ditempatkan di beberapa poin sebagai standard deviation atas dan bawah.

Support by:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar