--> Skip to main content

Dampak Regulasi terhadap Perkembangan High-Frequency Trading (HFT) di Berbagai Negara

namaguerizka.com 
What (Apa itu HFT dan mengapa butuh regulasi?)

High-Frequency Trading (HFT) adalah praktik perdagangan saham atau instrumen keuangan menggunakan algoritma dan sistem komputer berkecepatan tinggi untuk mengeksekusi ribuan hingga jutaan transaksi dalam hitungan milidetik. HFT memanfaatkan kecepatan akses data dan teknologi canggih untuk memperoleh keuntungan dari perbedaan harga yang sangat kecil di pasar keuangan.

Namun, kecepatan ekstrem ini juga menimbulkan kekhawatiran. Tanpa regulasi, HFT dapat menciptakan ketidakstabilan pasar, memperlebar kesenjangan antara pelaku besar dan kecil, serta berpotensi memicu flash crash—penurunan harga mendadak dalam waktu singkat. Oleh karena itu, regulasi diperlukan untuk menjaga transparansi, keadilan, dan stabilitas pasar keuangan.


Who (Siapa saja pihak yang terlibat?)

Beberapa pihak yang terlibat dalam regulasi HFT meliputi:

  1. Pemerintah dan regulator keuangan, seperti SEC (Amerika Serikat), ESMA (Eropa), OJK dan BEI (Indonesia).
  2. Pelaku pasar, termasuk perusahaan sekuritas, bank investasi, hedge fund, dan penyedia algoritma perdagangan.
  3. Bursa efek, yang menerapkan aturan teknis, seperti batas kecepatan perdagangan atau kewajiban pelaporan aktivitas.
  4. Investor ritel dan institusi tradisional, yang terdampak oleh kecepatan transaksi HFT.
  5. Lembaga penegak hukum internasional, yang mengawasi praktik lintas negara untuk mencegah manipulasi pasar.

Where (Di mana regulasi HFT diterapkan?)

Regulasi HFT diterapkan di bursa efek utama dunia dan bervariasi antar negara:

  • Amerika Serikat menerapkan aturan seperti Regulation National Market System (Reg NMS) untuk meningkatkan transparansi pasar.
  • Uni Eropa melalui Markets in Financial Instruments Directive II (MiFID II) mewajibkan HFT untuk mendapatkan lisensi khusus dan melaporkan algoritmanya.
  • Asia, seperti Jepang dan Singapura, memperketat standar akses data pasar untuk mencegah praktik curang.
  • Indonesia masih berada pada tahap awal pembahasan regulasi HFT, namun Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah menerapkan pemantauan ketat terhadap pola transaksi berkecepatan tinggi.

When (Kapan regulasi ini mulai diberlakukan?)

Regulasi HFT mulai berkembang pesat setelah krisis keuangan global 2008 dan flash crash tahun 2010 di pasar saham AS, di mana indeks Dow Jones anjlok hampir 1.000 poin hanya dalam hitungan menit sebelum kembali pulih. Insiden ini mendorong regulator di berbagai negara untuk mengeluarkan aturan baru antara 2010–2018, seperti MiFID II di Eropa (2018) dan pembaruan kebijakan SEC di AS (2014 ke atas). Negara-negara Asia mulai mengadopsi kerangka regulasi serupa dalam dekade terakhir seiring meningkatnya aktivitas perdagangan berkecepatan tinggi.


Why (Mengapa regulasi HFT diperlukan?)

Ada beberapa alasan utama mengapa HFT harus diatur dengan ketat:

  1. Menjaga stabilitas pasar: mengurangi risiko volatilitas ekstrem akibat transaksi super cepat.
  2. Mencegah manipulasi pasar: seperti praktik quote stuffing (memenuhi pasar dengan order palsu) atau spoofing (membatalkan order setelah mempengaruhi harga).
  3. Melindungi investor kecil: agar tidak tertinggal dalam kompetisi kecepatan melawan algoritma raksasa.
  4. Meningkatkan kepercayaan publik: pasar yang transparan menarik lebih banyak investor.
  5. Menjamin persaingan yang sehat: aturan membantu memastikan tidak hanya perusahaan bermodal besar yang dapat mendominasi perdagangan.

How (Bagaimana regulasi mempengaruhi perkembangan HFT?)

Regulasi mempengaruhi perkembangan HFT melalui beberapa mekanisme:

  1. Penerapan lisensi khusus dan audit algoritma – di Eropa, setiap perusahaan HFT wajib mendaftarkan algoritmanya ke regulator.
  2. Pengaturan kecepatan akses (latency floor) – beberapa bursa membatasi kecepatan eksekusi order agar tidak terjadi ketimpangan ekstrem.
  3. Kewajiban pelaporan transaksi real-time – meningkatkan transparansi dan memudahkan pengawasan.
  4. Pengenaan biaya tambahan untuk transaksi berfrekuensi tinggi guna mencegah penyalahgunaan sistem.
  5. Kerja sama internasional – negara-negara melakukan pertukaran informasi untuk mengawasi perdagangan lintas batas.

Dampaknya, HFT menjadi lebih terkendali dan transparan, namun di sisi lain biaya operasional meningkat bagi perusahaan perdagangan algoritmik. Negara dengan regulasi ketat cenderung melihat perlambatan pertumbuhan HFT, tetapi kualitas pasar menjadi lebih stabil. Sebaliknya, negara dengan regulasi longgar sering mengalami pertumbuhan HFT yang pesat namun rentan terhadap risiko volatilitas.


Kesimpulan

Regulasi terhadap HFT bukan untuk menghentikan inovasi, tetapi untuk menciptakan pasar yang sehat, adil, dan berdaya tahan tinggi. Perbedaan pendekatan antar negara menunjukkan tidak ada model tunggal yang sempurna. Namun, tren global mengarah pada peningkatan transparansi, audit algoritma, dan perlindungan investor sebagai prioritas utama.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar

Advertiser